Bank Syariah Mandiri, Class of Writing Skills

Ini adalah contoh tulisan yang saya buat di acara Training Writing Skills. Tulisannya belum selesai, karna waktu yang terbatas dan salah membedakan karakter dan kalimat, hahahaha, need your comment please, no editing , asli fresh from the oven, termasuk salah salahnya 

Menembus Pagi Menjadi Penulis

Sinar matahari belum menembus jendela kamar, namun saya terbangun oleh tangisan anak saya yang paling kecil. Sambil membuat susu untuk si keci,l saya melirik jam di dinding, Jarum panjang menunjukkan pukul 6 pagi…..ahhh saya kesiangan bangun hari ini, mendung menutupi matahari pagi  yang seharusnya menembus jendala kamar saya. Ada yang berbeda pagi ini. Hari libur yang biasanya saya jadikan alasan untuk menunda mandi pagi menjadi mandi siang, tidak berlaku pagi ini, bangun tidur harus terus mandi dan berangkat ke kantor. Haaa? Kantor? Hari ini kan hari Sabtu? Rajin amat ya? Bagaimana tidak rajin kalau hari ini saya akan mendapatkan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang sebenarnya sudah saya tunggu sejak bulan lalu. Saya akan menjadi salah satu peserta training writing skills.

Mandi dengan tergesa gesa , saya lanjutkan dengan menyiapkan segala sesuatunya, netbook, modem, sarapan buat anak-anak, termasuk mendaftarkan kakak menjadi salah satu pasien di rumah sakit. Saya harus bergegas, maklum jadwal saya dikendalikan oleh datangnya kereta. Konsekuensi tinggal jauh dari pusat kota Jakarta.  Motor Saya pacu dengan kecepatan 60 kilometer perjam agar bisa mengejar kereta jam 6.48 dari stasiun kranji. Alhamdulillah tidak macet, jadi saya bisa memacu motor saya lumayan kencang. Meskipun begitu saya tetap hati hati kok, saya selalu ingat ada dua orang jagoan kecil saya sedang menunggu dirumah,jagoan kecil  yang akan memberikan pelukan hangat pada saya ketika tiba di rumah, yang menjadikan melambung ke langit ke tujuh. Ahhh kalau mengingat pelukan hangat itu saya urung untuk berangkat, tapi mengingat saya yakin insya Allah saya akan mendapatkan sesuatu dari pelatihan ini maka, saya rela meninggalkan mereka bersama ayahnya hari ini.

Tak terasa saya sudah tiba di tempat penitipan motor langganan saya. Saya lihat jalanan hari ini becek karna hujan semalam. Saya mengurungkan niat untuk menitipkan motor disana. Saya memilih untuk menitipkan motor di stasiun yang hanya berjarak dua menit dari peron kereta dan tidak perlu menyebrang jalan. Ini saya lakukan karena saat kondisi becek, rok saya pasti terkena percikan air ketika saya berjalan di jalananan yang becek.  Ketika akan membelok ke stasiun  saya lihat ada kereta luar kota melintas….Alhamdulillah kereta yang saya naikin belum berangkat dari stasiun bekasi berarti. Karena Kereta dalam kota (Commuterline/CL) selalu menunggu kereta luar kota untuk melintas. Saya harus bergegas karena announcer di stasiun sudah mengumumkan bahwa kereta yang akan saya naikin sebentar lagi tiba. Motor saya masukkan ke dalam tempat penitipan motor. Tidak ada petugas yang jaga saat itu. Mungkin karena hari ini hari libur, mereka sedikit santai. Tak berapa lama ada petugas yang menghampiri saya, dia dengan santainya mencatat plat nomor saya di karcis yang akan digunakan sebagai bukti pengambilan motor nantinya. Tidak sabar dengan kondisi itu, saya meminta petugas untuk mempercepat pencatatan karena kereta saya akan datang. Saya tidak mau menunggu keberangkatan kerata selanjutnya karena ketinggalan kereta yang akan dating itu. Setelah mendapatkan karcis dengan berlari lari kecil saya menuju pintu stasiun, announcer terus mengumumkan bahwa kereta yang akan saya naikin akan tiba dan penumpang diminta untuk menunggu di peron jalur dua, karna takut ketinggalan saya berinisiatif untuk menyebrang rel terlebih dahulu dan membeli tiket di loket seberang . Aksi saya tersebut sempat mendapat teguran dari petugas jaga stasiun, namun saya cuek saja berlari lari kecil melewati rel. Dalam pikiran saya, kalau saya ketinggalan kereta, memang bapak mau ngenterin saya sampai kantor, toh saya akan beli karcis juga di seberang . Saya menyebrang terlebih dahulu tanpa membeli tiket karena posisi tempat menyebrang kereta di stasiun kranji berbeda dengan stasiun lain, di stasiun kranji jika kita tidak sempat menyebarang maka sudah bisa dipastikan kalau kita akan ketinggalan kereta kalau kereta yang akan kita naiki berada di peron seberang.

Sampai di peron seberang saya berlari lagi di tempat saya biasa menunggu CL. Saya biasa menunggu di peron  tempat kereta khusus wanita berhenti. Belum sempat saya menuju ke tempat itu, kereta sudah datang. Saya memutuskan untuk berhenti berlari tidak mengapa tidak di gerbong khusus wanita. Asal dapat duduk.

 to be continued ……

 

Iklan

Leave a comment »

Anakku, Amanahku

Gubahan yang ku suka,

Bunda love you Nak,

Jadilah seperti yang kau inginkan,

Besarlah seiring dengan terisinya jiwamu, dan

Kembalilah ke Penciptamu kelak dengan membawa kebanggaan bagi Ayah dan Bunda,

Doakan Ayah dan Bunda dapat mengemban amanah ini ya Nak,

(Yaa Allah bimbinglah kami…)

 

Khalil Gibran; ‘Anak’

Anakmu bukanlah milikmu,
Mereka adalah putra putri sang hidup,
yang rindu akan dirinya sendiri.

Mereka lahir lewat engkau,
tetapi bukan dari engkau,
mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.

Patut kau berikan rumah bagi raganya,
namun tidak bagi jiwanya

sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat kau kunjungi,
sekalipun dalam mimpimu.

 

 

Leave a comment »

Blog baru, semangat baru (harapanku…)

optimis Bunda...Assalamu’alaikum Wr Wb

Selamat datang kembali tulisan-tulisanku…setelah vakum selama kurang lebih 2 tahunan (mmmmhhhhh).

Ada yang berubah? pastinya… karena tidak ada yang kekal selain Allah SWT 

Selamat menulis kembali, semoga bisa menikmati…

Wassalamu’alaikum Wr Wb

Leave a comment »

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Comments (1) »